Latest Entries »

Pasar dan Pemasaran

Pengertian Pasar dan pemasaran

Pasar, kelompok individual ( perorangan maupun organisasi ) yang mempunyai permintaan terhadap barang  tt, berdaya beli dan berminat merealisasikan pembelinya.

Pemasaran, Kegiatan pemasar untuk menjalankan bisnis (profit/non profit) guna memenuhi kebutuhan pasar dengan barang /jasa menetapkan harga, medistribusikan serta mempromosikannya melalui proses pertukaran agar memuaskan konsumen dan mencapai tujuan perusahaan.

Jenis – jenis Pasar :

Pasar Konsumen , sekelompok pemebeli yang membeli barang untuk dikonsumsi bukan dijual atau diproses lebih lanjut.

Pasar Industri, Pasar yang terdiri individu dan lembaga atau organisasi yang membeli baranguntuk dipakai kembali baiklangsung /tidak langsung  dalam memproduksi barang lain kemudian dijual.

Pasar Penjual, Individu dan organisasi yang membeli barang untuk dijual lagi atau disewakan untuk mendapatkan laba.

Pasar Penjualan, Pasar dimana terdapat lembaga pemerintah seperti, departemen, kantor dinas, direktorat, dan instansi lain dll

KONSEP – KONSEP INTI PEMASARAN

Konsep Produk si

Konsumen menyukai produk yang tersedia dan selaras dengan kemampuan dan manajemen berkonsentrasi pada efisiensi produksi  dan distribusi.

Konsep Produk

Konsumen menyuakai produk yang bermutu dan kinerja baik serta keistimewaan yang mencolok , manajemen beusaha scr kontinyu memperbaiki produk.

Konsep Penjualan

Konsumen tidak akan membeli banyak produk kecuali manajemen harus melakukan usaha promosi dan penjualan yang baik.

Konsep Pemasaran

Penentuan kebutuhan dn Pemasaan keinginan Pasar sasaran dan pemberian kepuasan secara efektif dan efisien dari yang dilakukan pesaing

BAURAN PEMASARAN

Bauran pemasaran /Marketing Mix, kombinasi dari variabel yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan, yaitu Produk, struktur harga, kegiatan promosi, dan sistem distribusi.

  • Produk, sifat yang komplek baikdapat diraba atau tidak ,termasuk bungkus, warna, harga dan prestisge perusahaan,  pengecer, pelayanan perusahaan dan pengecer, yang diterima oleh pembeli untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan.

 

Klasifikasi produk;

Convience produk, buy requently, low priced, mass advertising, manay purchase location( contoh, barang2 kebutuhan pokok dsb )

Shopping Product, buy less requently, highier price, fewer purchase locations, comparion shop. ( contoh, mobil, motor , barang elektronik dsb )

Specialty Product,Special purchase effort, high price, unique charateristic, brand identification, few purchase locations ( contoh, berlian, automotif built up,motor dsb )

Unsought Product, new inovation, product consummers don’t, want to think about, require much advertising, personal selling ( life insureance, blood donation)

 

  • Saluran Distribusi, Ssaluran yang digunakan oleh produsen ke konsumen atau pembeli industri
  • Harga, sejumlah uang ( ditambah, beberapa barang jika memungkinkan )yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya.
  • Promosi, Arus informasi /persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran

Promotion Mix ;

Advertising, bentuk presentasi dan promosi ide, barang/jasa oleh sponsor tertentu

Personal Selling ( penjualan langsung ), presentasi langsung dalam suatu percakapan dengan satu / lebih calon pembeli dengan maksud mendapatkan penjualan.

Sales Promotion, berbagai kegiatan promosi antara lain peragaan penjualan, kontes , pemberian sampel gratis, dsb

Publicity, merangsang timbulnya permintaan yang bersifat impersonal terhadap barang , jasa atau ide dengan cara merangsang berita komersial, di mass mediadan tidak dibayar secara langsungoleh suatu sponsor.

TUJUAN SISTEM PEMASARAN

  1. Memaksimumkan Konsumsi

Memudahkan dan merangsang konsumsi maksimum , akhirnya menciptakan produksi , Kesempatan kerja, dan kemakmuran maksimum.

  1. Memaksimumkan Kepuasan Konsumen

Memaksimumkan kepuasan bukan konsumsi, ukuran kepuasan tidak mudah, tetapi kepuasan produk atau jasa yang dapat diimbangi oleh kejelekan dari pencemaran lingkungan, kepuasan yang diterima seseorang tergantung dari sedikinya orang lain memiliki barang tersebut.

  1. Memaksimumkan Mutu hidup

Tremasuk didalamnya kualitas, kuantitas, ketersediaan dan harga pokok barang , mutu lingkungan fisik dan mutu lingkungan kultur.

 

PENDEKATAN DALAM MEMPELAJARI PEMASARAN

  • Serba Fungsi

Meliputi kegiatan pokok pemassaran, pembelian, pengangkutan, penjualan, penyimpanan, pembelanjaan, penanggungan resiko, standarnisasi, dan Grading, pengumpulan informasi pasar.

  • Serba Lembaga

Dilihat dari lembaga atau organisasi yang terlibat dalam pemasaran (produsen, perantara, supplier, agen, pengecer dsb )

  • Serba Manajemen

Studi bagaimana barang berpindah dari produsen ke konsumen akhir atau konsumen industri

  • Serba Sistem

Dilihat dari pendapat manajer serta keputusan yang diambil.

  • Serba  Sistem

Menyangkut elemen2 yang luas dalam sistem pemasaran termasuk didalamnyapendekatan serba fungsi, manajemen, produk, dan lembaga.

1.   Rasio Likuiditas

Adalah  menunjukkan  kemampuan suatu  perusahaan  untuk  memenuhi kewajiban  keuangannya  yang  harus segera  dipenuhi, atau  kemampuan   perusahaan  untuk memenuhi  kewajiban  keuangan pada saat ditagih (S. Munawir, 1995 hal 31).

Likuiditas  adalah tingkat  kemampuan  perusahaan  untuk  memenuhi  kewajibannya   yang harus  segera  dipenuhi (Miswanto dan Eko Widodo, 1998, hal 83).

Likuiditas  adalah kemampuan   perusahaan  untuk memenuhi   kewajiban-kewajibannya  yang segera   harus  dipenuhi (Sutrisno, 2000 hal 18).

Rasio  likuiditas  terdiri dari :

aCurrent Ratio

Current  Ratio adalah perbandingan  antara  aktiva lancar  dan utang  lancar (Miswanto dan Eko Widodo, 1998, hal 83).

Rumus  :

Aktiva Lancar

Current Ratio  =  _______________    X 100 %

                                           Hutang Lancar

 

 

Current  ratio  menunjukkan  kemampuan  perusahaan  untuk  membayar  utangnya  yang harus  segera  dipenuhi dengan mengunakan aktiva lancar yang dimilikinya.

 

 

 

b.  Cash Ratio  (Ratio Immediate Solvency)

Aktiva  perusahaan  yang paling  likuid  adalah  kas  dan  surat   berharga. Cash  ratio  menunjukkan  kemampuan  perusahaan  untuk membayar  utang  jangka  pendek  dengan  kas  dan surat  berharga  yang dapat   segera  diuangkan. Tidak terdapat  standar  likuiditas  untuk  cash  ratio sehingga  penilaiannya  tergantung  pada  kebijakan   manajemen.

Rumus  :

Kas + Surat Berharga

Cash Ratio  =                                          X 100 %

Hutang Lancar

 

c.   Quick Ratio (Acid Test Ratio)

Quick ratio  merupakan rasio  antara   aktiva  lancar  sesudah dikurangi  persediaan  dengan  hutang lancar. Rasio ini  menunjukkan  besarnya  alat  likuid   yang paling cepat   bisa  digunakan  untuk melunasi     hutang lancar.  Persediaan  dianggap aktiva   lancar  yang paling   tidak lancar, sebab  untuk menjadi    uang tunai  (kas)  memerlukan  dua  langkah  yakni   menjadi piutang  terlebih dulu  sebelum menjadi kas.

Rumus :

                                                    Aktiva Lancar – Persediaan

Quick Ratio  =                                                               X 100 %

Hutang Lancar

 

 

2 .   Ratio Solvabilitas

Solvabilitas  suatu  perusahaan  menunjukkan  kemampuan  perusahaan  untuk  memenuhi  segala kewajiban   finansialnya  apabila  sekiranya   perusahaan  tersebut  pada saat itu  dilikuidasikan (Bambang Riyanto, 1995, hal 32).

Suatu  perusahaan yang  solvabel  belum  tentu  likuid  dan  sebaliknya  sebuah  perusahaan  yang  insolvabel  belum  tentu  ilikuid. Dalam  hubungan antara  likuiditas  dan solvabilitas  ada empat   kemungkinan  yang dapat   dialami  oleh perusahaan yaitu :

a.     Perusahaan yang likuid  tetapi insolvabel

b.     Perusahaan  yang likuid  dan solvabel

c.     Perusahaan yang solvabel  tetapi ilikuid

d.    Perusahaan  yang insolvabel  dan ilikuid

Tingkat   solvabilitas  diukur  dengan beberapa   rasio,  yaitu :

a.     Total Assets  to Total  Debt Ratio

Total  Assets  to total  Debt Ratio  adalah  ratio  yang dihasilkan   dengan membandingkan  jumlah aktiva  (total assets)  di satu   pihak  dengan   jumlah utang (total debt  dilain pihak).

Rumus :

                                    Total Assets to             Total Assets

Total Debt Ratio   =                                  X 100 %

Total Debt

 

b.     Net  Worth  to Total  Debt  Ratio

Rasio ini   membandingkan  modal sendiri  (Net  worth)  di satu pihak   dengan total    hutang  (Total  Debt) di lain pihak.

Rumus  :

                                                                                       Modal Sendiri

Net Worth to Total Debt Ratio =                                            X 100 %

Total Hutang

 

Makin kecil  prosentase ratio  ini berarti  makin    cepat perusahaan menjadi insolvabel. Tingkat   solvabilitas  dapat  dipertinggi  hanya dengan  jalan penambahan  modal sendiri dengan alternatif  sebagai berikut :

1.   Menambah  aktiva tanpa  menambah  utang atau   menambah  aktiva relatif  lebih besar  daripada  bertambahannya  hutang.

2.   Mengurangi  hutang  tanpa   mengurangi  aktiva  atau mengurangi  hutang  relatif  besar  daripada  berkurangnya  aktiva.

3.   Rasio  Rentabilitas

Rentabilitas  suatu  perusahaan  menunjukkan   perbandingan antara  laba  dengan aktiva   atau modal  yang menghasilkan  laba tersebut. Dengan kata  lain rentabilitas  adalah  kemampuan  suatu perusahaan  untuk menghasilkan laba  selama  periode  tertentu (Bambang Riyanto, 1997,     hal 35).

Adapun  cara penilaian  Rentabilitas  adalah :

a. Rasio  Rentabilitas  Ekonomi (Earning Power)

Rentabilitas  ekonomi  ialah perbandingan antara  laba usaha  dengan modal  sendiri  dan modal asing  yang dipergunakan  untuk  menghasilkan  laba tersebut  dan dinyatakan  dalam  persentase (Bambang Riyanto, 1997, hal  36).

Modal   yang diperhitungkan   untuk menghitung  rentabilitas  ekonomi   hanyalah modal   yang  bekerja  didalam perusahaan  (Operating Capital / Assets). Demikian pula laba  yang diperhitungkan  untuk menghitung   rentabilitas  ekonomi  hanyalah  laba yang berasal  dari operasi   perusahaan,  yaitu  yang disebut   laba usaha  (Net  Operating  Income).

Rumus :

Net Operating Income

Rentabilitas Ekonomi  =                                                     X 100 %

Operating Capital / Assets

 

Tinggi  rendahnya  rentabilitas  ekonomi  ditentukan  oleh dua faktor   yaitu :

-  Profit   Margin,  yaitu  perbandingan  antara  “Net  Operating Income”, dengan “Net Sales”, perbandingan   mana dinyatakan   dalam persentase.

- Turnover  of Operating  Assets  (Tingkat  perputaran aktiva  usaha), yaitu kecepatan berputarnya  operating  asets  dalam  suatu  periode tertentu.

b.     Rentabilitas modal sendiri

Rentabilitas  modal sendiri atau sering  juga  dinamakan rentabilitas  usaha adalah  perbandingan  antara  jumlah  laba yang  tersedia  bagi  pemilik   modal sendiri  disatu   pihak  dengan jumlah   modal sendiri  yang menghasilkan   laba tersebut  dilain  pihak (Bambang Riyanto, 1997, hal 44).

Rumus  :

                                                                                             EAT

Rentabilitas Modal Sendiri =                                          X 100 %

Modal Sendiri

Pengertian Laporan Keuangan

Akuntansi adalah seni daripada pencatatan, penggolongan dan peringkasan dari pada peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yangs setidak-tidaknya sebagian bersifat keuangan dengan cara yang setepat-tepatnya dan dengan penunjuk atau dinyatakan dalam uang.

Dari definisi akuntansi tersebut diketahui bahwa peringkasan dalam hal ini dimaksudkan adalah pelaporan dari peristiwa-peristiwa keuangan perusahaan yang dapat diartikan sebagai laporan keuangan.

Menurut Myer dalam bukunya Financial Statement Analysis (S.Munawir,1995:5) memberikan pengertian sebagai berikut :

Laporan keuangan adalah dua sektor yang disusun oleh akuntan pada akhir periode suatu perusahaan. Kedua dua daftar itu adalah daftar neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi-laba.Pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk menambah daftar ketiga yaitu daftar laba yang tak dibagikan(laba yang ditahan).

Menurut D.Hartanto dalam bukunya Analisa Laporan Keuangan (1991:15) memberikan pengertian sebagai berikut :

Laporan keuangan adalah ringkasan-ringkasan dari transaksi-transaksi yang terjadi akibat daripada aktivitas hutang modal hasil usaha dan biaya-biaya dalam perusahaan di mana transaksi yang terjdi tersebut terlebih dahulu diklasifikasikan sebelum dilaporkan dalam bentuk laporan-laporan

Menurut Zaki Baridwan dalam bukunya Intermediate Accounting (1992:17) memberikan pengertian sebagai berikut :

“Laporan keuangan adalah hasil akhir dari suatu proses pencatatan yang merupakan suatu ringkasan transaksi keuangan yang terjadi salama tahu buku yang bersangkutan.”

Dari pengertian-pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa laporan keuangan pada umumnya terdiri dari neraca dan rugi-laba dari suatu perusahaan yang sering diikuti oleh laporan perubahan modal dan sebagai alat penguji dari pekerjaan bagian pembukuan untuk dasar menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan tersebut.

Tujuan Laporan Keuangan

Oleh karena pihak yang berkepentingan dengan perusahaan berbeda-beda, maka informasi keuangan yang dihasilkan melalui akuntansi keuangan harus bertujuan umum.Laporan keuangan yang dihasilkan manajemen adalah laporan keuangan yang bertujuan umum. Hal ini disebabkan akuntan percaya bahwa informasi yang dibutuhkan oleh pemakai informasi adalah serupa, maka laporan keuangan yang bertujuan umum adalah lebih menguntungkan.

Tujuan laporan keuangan dalam Perinsip Akuntansi Indonesia (PAI) 1984 adalah sebagai berikut :

  1. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai sumber -sumber ekonomi dan kewajiban serta modal suatu perusahaan
  2. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam sumber-sumber ekonomi neto ( sumber dikurangi kewajiban ) suatu perusahaan yang timbul dari aktivitas-aktivitas usahan dalam usaha memperoleh laba.
  3. Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan di dalam mengestimasi potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
  4. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam sumber-sumber dan kewajiban, seperti informasi mengenai aktivitas pembelanjaan dan penanaman.
  5. Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuanag yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan, seperti informasi mengenai kebijakan akuntansi yang dianut perusahaan.

Informasi keuangan yang disebutkan didalam tujuan diatas akan bermanfaat bila dipenuhi ketujuh kualitas berikut :

  1. Relevan, relevensi suatu informasi harus dihubunghkan dengan maksud penggunaanya.Bila informasi tidak relevan untuk keperluan para pangambil keputusan,informasi demikian tidak akan ada gunanya,betapapun kualitas-kualitas lainya terpenuhi.
  2. Dapat dimengerti, informasi harus dapat dimengerti oleh pemakainya,dan dinyatakan dalam bentuk dan dengan istilah yang disesuiakan dengan batas pengertian para pemakai.
  3. Daya uji, informasi harus dapat diuji kebenaranya oleh para pengukur yang independen dengan menggunakan metode pengukuran yang sama.
  4. Netral, informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak-pihak tertentu.
  5. Tepat waktu, informasi harus disampaikan sedini mungkin untuk dapat digunakan sebagai dasar untuk membantu dalam pengambilan  keputusan-keputusan ekonomi dan untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut.
  6. Daya banding, informasi dalam laporan keuangan akan lebih berguna bila dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya dari perusahaan yang sama, maupun dengan laporan keuangan perusahaan-perusahaan lainya pada periode yang sama.
  7. Lengkap, informasi akuntansi yang lengkap meliputi semua data akuntansi yang dapat memenuhi secukupnya enam tujuan kualitatif (karakteristik)  diatas; dapat juga diartikan sebagai pemenuhan standar pengungkapan yang memadai dalam pelaporan keuangan.

Pihak-pihak Yang Berkepentingan Terhadap Laporan Keuangan

pihak-pihak yang berkepentingan terhadap posisi keuangan maupun perkembangan suatu perusahaan adalah : para pemilik perusahaan, manager perusahaan yang bersangkutan, para kreditur, bankers, para investor dan pemerintah di mana perusahaan tersebut berdomisili, buruh serta pihak-pihak lainnya lagi.

Pemilik Perusahaan ( pemegang saham ), sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaannya terutama untuk perusahaan-prusahaan yang pimpinannya diserahkan oleh orang lain seperti perseroan, karena dalam laporan tersebut pemilik perusahaan akan dapat menilai sukses tidaknya manager dalam memimpin perusahaannya yang diukur dengan laba yang diperoleh perusahaan.

Manager atau pimpinan perusahaan, dengan mengetahui posisi keuangan perusahaannya periode yang baru lalu akan dapat menyusun rencana yang lebih baik, memperbaiki sistem pengawasannya  dan menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaannya yang lebih tepat.

Investor, berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan dalam rangaka penentuan kebijaksanaan penanaman modalnya, yang sangat berpengaruh terhadap prospek keuntungan dan perkembangan perusahaan dimasa yang akan datang.

Kreditur, dalam mengambil keputusan untuk memberi atau menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan perlu diketahui terlebih dahulu posisi keuangan dari perusahaan yang bersangkutan, guna penganalisaan laporan keuangan.

Pemerintah dimana perusahaan tersebut berdomisili, sangat berkepentingan sengan laporan keuangan perusahaan tersebut, disamping untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung oleh perusahaan juga sangat diperlukan oleh Biro Pusat Statistik, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Tenaga Kerja untuk dasar perencanaan pemerintah.

Buruh, penggunaan laporan keuangan bagi buruh agar dapat menilai apakah ada pemberian premi atas bonus untuk karyawan tiap akhir periode dan selain itu juga berdasarkan tingkat laba yang dihasilkan.

Pengertian Forecast

forecast produksi adalah suatu kumpulan data yang menuliskan dan menerangkan kegiatan produksi pada waktu yang akan datang,di mana perusahaan harus mampu meramalkan berapa jumlah penjualan yang akan dihasilkan pada waktu mendatang.  Peramalan atau forecast sangat di perlukan dalam suatu perusahaan, agar perusahaan tersebut dapat memperhitungkan berapa persen dari angka penjualan tersebut dapat terjual dengan target yang di inginkan.

                                        

Kebutuhan memforecast melihat situasi yang akan datang menjadi sangat penting dan perlu apa adanya perubahan-perubahan keadaan kearah yng lebih baik semakin cepat.

Forecasting (Forecast) atau lebih dikenal dengan peramalan mermiliki arti memperkirakan dan meramalkan apakah produk tersebut mengalami kenaikan permintaan ditingkat produksi atau tidak. Kondisi yang mempengaruhi perencanaan produk atau bagaimana manajemen yang diterapkan diperusahaan, agar produksi akan mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.

      Tujuan forecast

Hampir seluruh perusahaan mengunakan metode forecast,  termaksut PT Coca-Coca Bottling Indonesia  metode forecast ini memiliki tujuan;

  • Untuk memenuhi kebutuhan costemer/konsumen dan memjaga tingkat pelayanan yang diinginkan.
  • Untuk memperkecil investment inventory dijalur distribusi dengan cara mempengaruhi stock.
  • Meningkatkan probabilitas.
  • Perencanaan masa depan.

Dengan mengunakan metode forecast dalam perusahaan diharapkan perusahaan mampu menanggulangi persoalan-persoalan pada waktu yang akan datang. perusahaan dituntut agar tepat dalam memilih teknik forecast, karena hal itu akan sangat mempengaruhi ukuran keberhasilan ukuran forecast itu sendiri.

Jadi penting disini ialah menciptakan pada diri pemforecast kemampuan memanfaatkan teknik-teknik forecast yang ada dengan melihat situasi dan kondisi sekeliling sehingga perkiraan tentang masa yang akan datang ditetapkan tidak jauh meleset dari situasi senyatanya yang nanti akan terjadi.

           

Forecast perusahaan

Forecast perusahaan sangat diperlukan dalam menjalankan sebuah manajemen yang baik agar perusahaan tersebut dapat meramalkan kejadian yang akan datang.

 

 

Macam-macam forecast situasi didalam perusahaan adalah:

  • Forecast  pasar dan penjualan.
  • Forecast  produksi
  • Forecast  personalia
  • Forecast  pembelanjaan

 Forecast pasar / penjualan

Forecast secara spesifik mengkaitkan berbagai asumsi yang berhubungan dengan tindakan-tindakan apa yang perlu diambil serta variable lain yang mempengaruhi perusahaan dengan arus penjualan yang diperkirakan terjadi. Metode yang digunakan dalam forecast ini adalah :

  • Teknik   Ekstrapolasi
  • Teknik   Kolerasi
  • Teknik   polling

 

Forecast produksi

Estimasi tentang kegiatan produksi apa saja yang perlu dilakukan pada waktu yang akan datang, apabila jumlah penjualan yang ditentukan maka bagian produksi harus menentukan produk apa saja yang perlu diproduksi, berapa banyak kualitas serta berapa jumlah ongkos produksinya metode yang dipakai:

  • Metode programasi linier
  • Metode Trasportasi
  • Metode  jalan kritis

Pengawasan dalam kuantitas serta ongkos harus dimanfaatkan untuk menjamin agar produk diproduksi dalam jumlah dengan kualitas serta ongkos yang dikendaki.

Forecast personalia

Forecast ini menentukan personalia tenaga kerja yang diperlukan pada waktu yang akan datang, baik dalam jumlah maupun kemampuan yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan baik dalam pemasaran, produksi, pembelanjaan, serta akuntansi. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi masalah dalam hal penarikan dan penempatan tenaga kerja.jika jumlah tenaga kerja melebihi dari jumlah produksi yang akan dihasilkan maka akan terjadi pengurangan karyawan, hal ini tentu saja akan memperbesar upah-upah yang akan dikeluarkan oleh perusahaan, tetapi jika perusahaan mengalami kekurangan tenaga kerja maka otomatis perusahaan akan memperkerjakan tenaga kerja dengan lembur atau sub kontrak yang akan menghambur-hamburkan uang.

 

Forecast pembelanjaan

Pada hakekatnya menentukan kebutuhan dana cara penarikannya serta efisiennya dan efektif. Dengan budget-budget kas, piutang, persediaan, dan kapasitas budget serta perkiraan hutang jangka panjang dan hutang jangka pendek serta penggunaaan modal sendiri. Metode yang digunakan :

  1. Metode Net present value (NVT)
  2. Metode retur of reture on invesment (ROR)

Dapatlah disimpulkan bahwa dengan berbagai forecast perusahaan, perusahaan mampu untuk dipergunakan didalam suatu perusahaan tergantung dari kebutuhan dari perusahaan itu.

Pengertian dan Klasifikasi Persediaan

“ Persediaan adalah suatu jenis aktiva atau barang yang dimiliki oleh suatu perusahaan atau badan usaha (saat) tertentu, yang akan dijual kembali atau akan dikonsumsi (dipakai) dalam operasi normal perusahaan. (F.X. Sudarsono ; 1996,106).”

“ Persediaan adalah pos harta yang ditahan untuk dijual dalam kegiatan usaha yang biasa atau barang yang dikonsumsi dalam produksi barang yang akan dijual. (Kieso dan Weygandt ; 1995,491).”

Sedangkan menurut “ Radiks Purba (1995,159) dilihat dari segi neraca, persediaan adalah barang atau bahan yang masih tersedia pada tanggal neraca, yang dapat segera dijual atau digunakan (dikonsumsi) atau diolah dahulu (manufaktur) kemudian dijual.”

Pengertian persediaan untuk jenis barang tertentu bagi perusahaan yang satu tidak sama dengan perusahaan yang lain, misalnya aktiva berupa : mobil, mesin-mesin pabrik merupakan aktiva tetap bagi perusahaan manufaktur namun bagi perusahaan perdagangan mobil dan mesin-mesin pabrik aktiva jenis tersebut merupakan persediaan.

Persediaan barang diklasifikasikan sesuai dengan jenis usaha perusahaan tersebut. Dalam perusahaan perdagangan persediaan barang merupakan aktiva dalam bentuk siap dijual kembali dan yang paling aktif dalam operasi usahanya. Sedangkan dalam perusahaan pabrikasi atau manufaktur, persediaan barang dapat diklasifikasikan sebagai berikut : persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Terdapatnya klasifikasi persediaan yang berbeda antara perusahaan perdagangan dengan perusahaan manufaktur adalah karena fungsi dua perusahaan itu memang berbeda. Fungsi perusahaan perdagangan adalah menjual barang yang diperolehnya dalam bentuk sudah jadi. Dengan kata lain, tidak ada proses pengolahan seandainya terjadi pengolahan maka pengolahan tersebut terbatas pada pembungkusan atau pemberian kemasan agar barang lebih menarik selera konsumen. Sedangkan fungsi perusahaan manufaktur adalah mengolah bahan mentah menjadi produk selesai.

 

 

 

Sistem Pencatatan Persediaan

Sistem pencatatan persediaan yang lazim digunakan ada dua macam yaitu:

  1. Sistem fisik (physical inventory system)
    1. Sistem Perpetual (perpetual inventory system).

 

Sistem Fisik (Physical Inventory System)

Sistem persediaan fisik atau periodik adalah sistem dimana harga pokok penjualan dihitung secara periodik dengan mengandalkan semata-mata pada perhitungan fisik tanpa menyelenggarakan catatan hari ke hari atas unit yang terjual atau yang ada ditangan. Sistem fisik digunakan untuk menentukan jumlah kuantitas persediaan barang dan dilakukan pada akhir periode akuntansi. Cara perhitungan harga pokok penjualan dilakukan seperti berikut ini :

Pesediaan Awal                                  xxx

Pembelian                                            xxx  +

Barang tersedia untuk dijual               xxx

Persediaan Akhir                                 xxx

Harga Pokok Penjualan                       xxx

                                                            ===

Ciri-ciri sistem fisik atau periodik adalah sebagai berikut :

  • Pemasukan dan pengeluaran persediaan tidak dicatat dan tidak diperhitungkan dalam  suatu catatan tertentu.
  • Pembelian barang dicatat dengan mendebit rekening pembelian bukan persediaan barang.
  • Perhitungan persediaan akhir sekaligus digunakan untuk perhitungan harga pokok penjualan dengan menggunakan jurnal penyesuaian.

 

Sistem ini cukup sederhana dan mudah diterapkan, tetapi kurang baik untuk pengawasan persediaan, karena kekurangan persediaan yang hilang tidak dapat dideteksi dan manajemen tidak memiliki alat untuk mengetahui jumlah persediaan setiap saat.

 

 

Sistem Perpetual (Perpetual Inventory System)

Sistem persediaan perpetual adalah suatu sistem yang menyelenggarakan pencatatan terus-menerus yang menelusuri persediaan dan harga pokok penjualan atas dasar harian. Perkiraan persediaan didukung dalam kartu-kartu pembantu persediaan (kartu persediaan). Kartu persediaan digunakan untuk mencatat transaksi setiap jenis persediaan, memuat nama barang, tempat penyimpanan barang, kode barang dan kolom-kolom yang dipakai untuk mencatat transaksi adalah tanggal, pembelian (pemasukan), penjualan (pengeluaran) dan sisa atau saldo persediaan. Berikut contoh kartu persediaan :

Nama perusahaan :

Jenis barang         :

Kode barang  :

Gudang          :

Tgl.

Pembelian

Penjualn

Saldo

Unit

Harga

Jumlah

Unit

Harga

Jumlah

Unit

Harga

Jumlah

                   

Ciri-ciri pengelolaan persediaan dengan sistem perpetual adalah sebagai berikut :

  • Setiap terjadi pembelian barang dicatat dengan mendebit rekening persediaan barang.
  • Setiap terjadi pengeluaran barang (penjualan) dicatat mengkredit persediaan sejumlah harga pokok penjualan.
  • Setiap saat dapat diketahui jumlah kuantitas sisa atau saldo persediaan.

 

Sistem perpetual memudahkan dalam penyusunan neraca dan laporan perhitungan laba rugi karena penentuan persediaan akhir tidak perlu lagi menghitung fisiknya tetapi perhitungan fisiknya tetap dilakukan untuk tujuan pengawasan terhadap persediaan barang.

 

 Metode Penilaian Persediaan

Metode yang dapat dipakai untuk menentukan besarnya nilai persediaan ada beberapa macam. Nilai persediaan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap penyusunan laporan keuangan baik dalam neraca maupun laporan perhitungan laba rugi. Nilai persedian yang tercantum dalam neraca menunjukkan nilai kekayaan yang berdasarkan prinsip hati-hati menghendaki nilai mana yang terendah. Sedangkan nilai persediaan untuk kepentingan perhitungan laba rugi dihadapkan kepada kepentingan penentuan laba yang diperoleh perusahaan.

Beberapa metode penilaian persediaan yang ada dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Metode Harga Pokok (cost), dibagi menjadi :
    1. Metode Identifikasi Khusus
    2. Metode Rata-rata, yang dibagi menjadi :

-  Sistem Fisik :(1) Metode rata-rata sederhana;(2) Metode rata-rata tertimbang.

- Sistem Perpetual : metode rata-rata bergerak

  1. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out)
  2. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out)
  3. Metode Harga Terendah diantara Harga Pokok dan Harga Pasar (Lower of cost or market).
  4. Metode Taksiran, yang didasarkan atas :
    1. Metode Laba Kotor
    2. Metode Harga Eceran

 Metode Harga Pokok (cost)

Penilaian persediaan barang dagangan dengan menggunakan harga pokok adalah penilaian persediaan yang besarnya terdiri dari seluruh pengeluaran yang dilakukan atas kewajiban-kewajiban yang timbul untuk memperoleh barang sampai barang tersebut siap untuk dijual atau dikonsumsi.

  1. Metode Identifikasi Khusus

Metode harga pokok yang didasarkan atas metode identifikasi khusus adalah suatu metode penilaian harga yang didasarkan atas nilai perolehan dari barang yang sesungguhnya. Penggunaan metode ini biasanya dipakai untuk barang yang tidak banyak unitnya (kuantitasnya) dan harganya pun cukup mahal.

 

 

 

 

 

 

  1. Metode Rata-rata (Average Method)

Metode harga pokok rata-rata adalah suatu metode penilaian persediaan yang didasari atas harga rata-rata dalam periode yang bersangkutan. Besar kecilnya nilai persediaan yang masih ada dan harga pokok barang yang dijual, dipengaruhi oleh metode yang dipakai dalam metode rata-rata adalah : (1) sistem fisik yang dibagi menjadi metode rata-rata sederhana dan metode rata-rata tertimbang ; (2) sistem perpetual (metode rata-rata bergerak). Rumus yang digunakan pada metode rata-rata adalah sebagai berikut :

- Metode rata-rata sederhana :

Biaya perunit                           = Total harga perunit pembelian

Frekuensi pembelian

Nilai persediaan akhir             = Persediaan akhir x biaya perunit

Harga pokok penjualan           = unit yang dikeluarkan x biaya perunit

-    Metode rata-rata tertimbang :

Biaya perunit                           = Jumlah harga perunit x banyaknya unit

Banyaknya Unit

Nilai persediaan akhir             = persediaan akhir x biaya perunit

Harga pokok penjualan           = unit yang dikeluarkan x biaya perunit

-       Metode rata-rata bergerak :

Metode ini diselenggarakan dengan kartu persediaan dan harga pokok perunit persediaan selalu berubah setiap terjadi pembelian barang baru.

Harga pokok rata-rata = harga perolehan lama + harga perolehan baru

Unit barang lama + unit barang baru

  1. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out)

Metode First In First Out (FIFO) adalah metode penilaian persediaan yang menganggap barang yang pertama kali masuk diasumsikan keluar pertama kali pula. Pada umumnya perusahaan menggunakan metode ini, sebab metode ini perhitungannya sangat sederhana baik sistem fisik maupun sistem perpetual akan menghasilkan penilaian persediaan yang sama.

 

 

 

 

 

Cara menghitung persediaan akhir adalah sebagai berikut :

Persediaan awal                      xxx

Pembelian                                xxx +

Tersedia untuk dijual              xxx

Penjualan                                 xxx

Persediaan akhir                      xxx

Metode FIFO yang didasarkan atas sistem fisik, nilai persediaan akhir ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang terakhir kali masuk, bila saldo fisik ternyata lebih besar dari jumlah unit terakhir masuk maka sisanya diambilkan dari harga pokok perunit yang masuk sebelumnya. Sedangkan pada sistem perpetual pencatatan persediaan dilakukan secara terus menerus dalam kartu persediaan. Pada sistem ini apabila ada transaksi penjualan maka akan dijurnal dua kali, pertama mencatat harga pokok penjualan dan yang kedua mencatat harga pokok barang yang dijual, seperti berikut ini :

Kas/ Piutang Dagang              xxx

Penjualan                                 xxx

HPP                                         xxx

Persediaan barang                   xxx

  1. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out)

Metode Last In First Out (LIFO) adalah metode penilaian persediaan yang terakhir masuk diasumsikan akan keluar atau dijual pertama kali. Metode ini memiliki konsep yang cukup sederhana namun sulit dilaksanakan. Pengaruh penggunaan metode LIFO terhadap penentuan laba bersih usaha, jika harga cenderung naik maka laba perusahaan terlalu kecil atau sebaliknya.

Metode LIFO secara sistem fisik ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang masuk pada awal periode bila saldo fisik ternyata lebih besar dari barang yang masuk pada awal periode maka diambilkan dari harga pokok perunit yang masuk berikutnya. Sedangkan dengan sistem perpetual, setiap kali ada transaksi baik pembelian maupun penjualan dicatat dalam kartu persediaan.

Pengertian Persediaan

Dalam suatu perusahaan industri haruslah memeliki persediaan. Pentingnya persediaan ini di maksudkan untuk memperlancar kegiatan operasional dalam tujuannya untuk mencapai barang dan jasa. Dengan adanya persedaiaan perusahaan akan dapat melayani konsumen atau langganan yang memerlukannya.

Dalam memberikan pengertiaan persediaan akan dikemukakan definisi atau pengertian sebagai berikut :

Menurut Sofjan Assauri (1998:169), menyatakan bahwa :

“Persdiaan adalah suatu aktiva meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal,atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi”.

Menurut Terry Hill (2000:103), menyatakan bahwa :

Persediaan atau inventory adalah merupakan salah satu unsur aktiva lancar yang paling aktif dalam operi perusahaan yang secara kontinue diperoleh, diubah, yang kemudian dijual kembali”.

Menurut Miswanto dan Eko Widodo (1996:171), menyatakan bahwa :

“Persediaan adalah sebagai salah satu kekayaan yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi atau operasi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu untuk digunakan dalam suatu proses produksi atau operasi”.

Menurut pendapat diatas persediaan merupakan sejumlah bahan-bahan, yang disediakan atau dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi atau produk yang di sediakan untuk memenuhi permintaan dari komponen atau langganan setiap waktu.

 

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persediaan Bahan Baku

Faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan ini ada beberapa macam. Faktor-faktor tersebut akan saling berkaitan, sehingga secara bersama-sama akan mempunyai persediaan bahan baku. Adapun faktor-faktor yang dimaksud adalah sebagai berikut :

  1. Harga bahan baku

Harga bahan baku merupakan penyusunan perhitungan berapa besar dana perusahaan harus disediakan untuk investasi dalam persediaan bahan baku ini.

  1. Perkiraan pemakaian

Sebelum kegiatan pembuatan bahan baku dilaksanakan, maka manajemen harus membuat perkiraan bahan baku yang akan dipergunakan dalam proses produksi pada suatu periode.

  1. Biaya-biaya persediaan

Didalam menentukan besarnya persediaan bahan baku, maka perlu diperhitungkan pula biaya-biaya penyelenggaraan bahan baku.

  1. Pemakaian senyatanya

Pemakaian bahan baku senyatanya dari periode-periode yang lalu (aktual demand) merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan seberapa besar penyerapan bahan baku oleh proses produksi perusahaan serta bagaimana hubungannya dengan pemakaian yang sudah disusun dan harus senantiasa dianalisa, dengan demikian maka akan dapat disusun perkiraan kebutuhan bahan baku mendekati kenyataan.

  1. Waktu tunggu

Waktu tunggu (Lead Time) adalah tenggang waktu yang diperlukan antara saat pemesanan bahan baku sampai datangnya baha baku tersebut.

  1. Kebijaksanaan pembelanjaan

Seberapa besar persdiaan bahan baku akan mendapatkan dana dari perusahaan akan tergantung pada kebijaksanaan-kebijaksanaan dari dalam perusahaan tersebut.

 

          Pengendalian Persediaan

Menurut terry Hill (2000:104), menyatakan bahwa :

“Pengendalian persediaan adalah suatu kegiatan untuk menentukan tempat dan komposisi dari persediaan barang maupun bahan baku sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dan penjualan serta kebutuhan pembelanjaan perusahaan dengan efektif dan efisien”.

Dengan adanya persediaan memadai dalam jumlah mutu, tempat dan waktu yang tepat, antara lain berguna untuk :

  1. Menghilangkan resiko terlambatnya kedatangan barang atau bahan yang dipesan.
  2. Menghilangkan resiko dari barang atau bahan yang dipesan tidak dalam kondisi yang baik dan harus dikembalikan lagi.
  3. Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau ikut menjamin kelancaran proses produksi.
  4. Mencapai penggunaan mesin optimal.
    1. Untuk menjaga bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan apabila bahan itu tidak ada pesanan.
    2. Memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya dimana keinginan langganan pada suatu waktu dapat dipenuhi atau memberikan jaminan tetap tersedianya barang tersebut.

 

          Fungsi dan Pengendalian Persdiaan

Fungsi Utama Pengendalian Efektif

  1. Pengadaan (Procuring)

Harus diciptakan beberapa prosedur untuk memperoleh supply material yang dibutuhkan dalam jumlah cukup.

  1. Pemeliharaan (Maintaining)

Harus diciptakan beberapa prosedur untuk memelihara dan melindungi material yang sudah masuk sebagai persediaan.

 

 

  1. Pengeluaran (Issving)

Harus diciptakan, ditentukan suatu route untuk mengeluarkan pada waktu dan tempat yang dibutuhkan.

Selain fungsi utama diatas ada beberapa fungsi pengendalian persediaan bahan baku lainnya adalah sebagai berikut :

  1. Memperoleh bahan-bahan yaitu menetapkan prosedur untuk memperoleh suatu supply yang cukup dari bahan-bahan yang dibutuhkan, kualitas maupun kuantitas.
  2. Menyimpan dan memelihara bahan-bahan dalam persediaan yaitu mengadakan suatu sistem penyimpanan untuk memelihara dan melindungi bahan-bahan yang telah dimasukan kedalam persediaan.
  3. Pengeluaran bahan-bahan yaitu menetapkan suatu pengeluaran dan penyimpanan bahan-bahan dengan tetap pada saat serta tempat yang dibutuhkan.
  4. Meminimalisasi investasi dalam bentuk barang (mempertahankan persediaan dalam jumlah yang optimum setiap waktu).

 

Tujuan Pengendalian Persediaan

Dari teori fungsi dan tujuan pengendalian tersebut diatas, dapatlah diambil kesimpulan bahwa pengendaliaan persdiaan bertujuaan untuk :

  1. Optimalisasi dari modal yang tertahan dalam perusahaan.
    1. Menjaga agar proses produksi tetap lancar.
    2. Melindungi persediaan terhadap pemborosan, kerusakan dan resiko-resiko lain.
    3. Tujuan praktis dalam kegiatan untuk mendapatkan biaya persediaan yang minimal.

Tujuan dari pengendalian persdiaan adalah mempunyai jumlah mutu material yang tepat pada waktu dibutuhkan dengan pengeluaran investasi yang minimum sesuai dengan kemampuan perusahaan.

Menurut Sofjan Assauri (1998:184), untuk menjamin terdapatnya persediaan pada tingkat yang optimal agar produksi dapat berjalan dengan lancar dan biaya minimal, maka diperlukan pengawasan pembeliaan bahan baku yang memenuhi persyaratan-persyaratan menurut kebutuhan yang standar yang ditetapkan dalam perusahaan.Persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelian bahan-bahan yaitu :

 

a.  The Right Quantity (jumlah yang tepat)

Mendapatkan jumlah yang tepat atau optimal, maka kegiatan produksi berjalan dengan kontinu dan penanaman modal untuk kebutuhan bahan baku sesuai dengan yang diperlukan perusahaan dalam periode yang telah ditetapkan dalam neraca.

b.   The Right Quality (mutu yang tepat)

Mendapatkan mutu yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan ini sangat menolong dalam kegiatan produksi. Kegiatan pembelian tidak saja diarahkan untuk mutu yang tepat sesuai dengan kebutuhan.

c.   The Right Time (waktu yang tepat)

Mendapatkan bahan-bahan yang tepat pada waktunya dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan semula jika hal ini meleset dari rencana yang telah ditetapkan, tentu akan membahayakan keadaan perusahaan, maka dari itu telah terjadi kewajiban bagian pembelian untuk memperhatikan dan memerlukan jaminan dari suplier agar mengirim bahan baku yang telah ditetapkan.

d.   The Rught Price (harga yang tepat)

Mendapat harga yang tepat maksudnya, harga yang didapatkan sesuaai dengan standar harga yang telah ditentukan mutu barang yang akan dibeli.

 

  1. The Right Sources (sumber yang tepat)

Mendapatkan sumber yang tepat, sehingga dapat menentukan sumber yang mana yang memenuhi persyaratan kebutuhan yang diinginkan, seperti jumlah mutu, waktu dan harga.

Salah satu tujuan yang mendasar (fundamental) dari perusahaan adalah untuk mencapai tingkat laba tertentu sesuai dengan ketetapan yang telah ditentukan perusahaan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Pada jangka pendek khususnya, untuk mencapai laba tersebut dibutuhkan perencanaan  sistematik agar dapat digunakan oleh semua tingkatan dari perusahaan tersebut, baik dari tingkatan terbawah sampai dengan tingkat manajeman yang teratas.

Implementasi dari perencanaan dan penyediaan yang baik tersebut dilaksanakan dengan menggunakan analisis biaya-volume-laba yaitu dengan cara menganalisis hubungan return antara biaya variabel, biaya tetap, volume penjualan dan harga penjualan serta efek hubungan volume unit dengan laba.

Pengertian Volume Penjualan

Volume penjualan dapat diartikan sebagai komposisi penjualan yang merupakan kombinasi relatif berbagai jenis produk, terhadap total pendapatan penjualan dalam satu perusahaan manajemen harus berusaha agar mencapai kombinasi atau komposisi penjualan yang dapat menghasilkan jumlah laba yang paling besar dicapai jika komposisi penjualan sebagian besar terdiri atas produk yang mempunyai laba kontribusi yang tinggi.

Perubahan komposisi penjualan dari jenis produk yang mempunyai laba kontribusi rendah kejenis produk yang mempunyai jenis laba kontribusi rendah mengakibatkan total laba berkurang.

Pengertian Laba

Laba dalam arti kata umum adalah keuntungan yang berarti kenaikan dalam ekuitas (aktiva bersih) yang timbul dari transaksi isidensial suatu intensitas atau kejadian lain dan kondisi tertentu, yang dapat mempengaruhi entisitas selama periode tertentu kecuali yang dihasilkan dari pendapatan atau investasi dari pemilik. Laba yang cocok digunakan untuk kepentingan pengukuran kemampuan menghasilkan laba dalam perusahaan adalah laba kontribusi. Menurut Mulyadi dalam bukunya Akuntansi Manajemen, “Laba Kontribusi merupakan kelebihan pendapatan penjualan di atas biaya variable”. (Mulyadi,2002;230). Informasi laba kontribusi memberikan gambaran jumlah yang tersedia untuk menutupi biaya tetap dan untuk menghasilkan laba bersih.

 

Analisis Biaya-Volume-Laba

Analisis Biaya-Volume-Laba

1.         Harga jual produk / jasa

2.         Volume / tingkat harga

3.         Biaya variabel per unit

4.         Total biaya tetap

5.         Komposisi produk / jasa yang dijual

 

“Analisis hubungan Biaya-Volume–Laba (Cost-Volume-Profit) merupakan teknik untuk menghitung perubahan dampak harga jual, volume penjualan, dan biaya terhadap laba, untuk membantu manajemen dalam perencanaan laba jangka pendek, atau dalam suatu periode akuntansi tertentu dengan mendasarkan analisisnya pada variabilatas penghasilan-panghasilan penjualan maupun biaya volume kegiatan sehingga teknik-teknik tersebut akan dapat digunakan dengan baik sebagai alat perencanaan laba dalam jangka pendek”.(Mulyadi,1993;223)

“Analisis Biaya-Volume–Laba menghasilkan informasi dampak perubahan harga jual, biaya dan atau volume penjualan terhadap laba bersih”.(Mulyadi,1993;271)

“Analisis Biaya-Volume-Laba merupakan suatu metode estimasi bagaimana perubahan variabel-variabel berikut akan mempengaruhi laba: biaya variabel per unit, harga jual per unit, jumloah biaya tetap per periode,volume penjualan,dan bauran penjualan. Analisis Biaya-Volume-Laba adalah pemeriksaan bagaimana jumlah pendapatan dan jumlah biaya berubah seiring dengan perubahan volume penjulan.”(Henry Simamora, 1999, 159)

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi laba  :

1.         Perubahan harga jual  per unit barang dagangan, produk, atau jasa yang dijual.

2.         Perubahan jumlah total biaya tetap

3.         Perubahan biaya variabel per unit

4.         Kombinasi perubahan harga jual per unit, total barang tetap, biaya variabel per unit, dan biaya tetap per unit.

Pengertian Dan Metode Perhitungan Break Even Point

Sebelum menguraikan dan menjelaskan tentang biaya-biaya BEP perlu diketahui terlebih dahulu tentang pengertian Break Even Ponit ( BEP )  itu  sendiri yang ditinjau dari berbagai sudut. Untuk lebih jelasnya akan di kemukakan mengenai pendapat beberapa ahli dalam mendefinisikan pengertian BEP

1.   Dari Segi Keuangan

  1. Menurut Bambang Riyanto ( 1995: 291 ) BEP adalah suatu tehnik analisa untukmempelajari hubungan biaya tetap, biaya variabel, laba dan volume kegiatan penjualan.
  2. Menurut Sutrisno ( 2000 : 216 ) BEP adalah suatu kondisi dimana pada periode tersebut perusahaan tidak mendapat keuntungan dan juga tidak menderita kerugian.

2.   Ditinjau dari Segi Kuantitas Produksi

Menurut T. Hani handoko ( 1984 : 307 ) BEP adalah analisa yang digunakan untuk menentukan berapa jumlah produk ( Rupiah atau unit keluaran ) yang dihasilkan agar perusahaan tidak rugi dan tidak untung.

3.   Ditinjau dari Segi Biaya

Menurut Mulyadi ( 1984 : 72 ) BEP adalah suatu keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh laba dan tidak merugi. Dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas apabila jumlah penghasilan sama dengan jumlah biaya, atau apabila marginal income hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja.

4.  Ditinjau dari Segi Laba

Menurut komarudin ( 1983 : 44 ) BEP adalah volume keseimbangan dimana besarnya penjualan tanpa diderita kerugian atau memperoleh laba dan menutup semua biaya yang telah dikeluarkan.

Break Even Volume   =                        Biaya tetap

Hasil penjualan – biaya variabel

Volume  penjualan

 

Berdasarkan pengertian dari berbagai sudut pandang diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian BEP ( Break Even Point ) adalah  Suatu keadaan dimana dalam operasi perusahaan untuk menentukan jumlah produk dalam Rupiah atau unit perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi. (penghasilan = total biaya).

Anggapan- anggapan dan Keterbatasan Analisa Break Even Point (BEP)

Menurut Munawir ( 1990 : 197 ) Anggapan merupakan suatu konsep dasar atau dasar pemikiran yang harus diterapkan walau pun anggapan-anggapan tersebut mungkin tidak sesuai dengan kenyataan. Mudah tidaknya perhitungan atau penentuan titik break even point baik denangan rumus matematika maupun grafik, tergantung pada konsep-konsep yang mendasari perhitungan tersebut. Pada umumnya konsep atau anggapan dasar yang digunakan dalam analisa break even point adalah sebagai berikut :

  1. Bahwa biaya harus dapat dipisahkan atau diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya variabel dan perinsip validitas biaya dapat diterapkan dengan tepat.Terhadap biaya semi variabel ini harus dilakukan pemisahan menjadi unsur tetap dan unsur variabel secara teliti baik dengan menggunakan pendekatan analitis maupun pendekatan historis.
  2. Bahwa biaya tetap secara total akan selalu konstan samapi tingkat kapasiats penu. Biaya tetap adalah merupakan biaya yang selalu akan terjadi walaupun perusahaan berhenti beroperasi.
  3. Bahwa biaya variabel akan berubah secara proposionil (sebanding) dengan perubahan volume penjualan dan adanya sinkronisasi antara produksi dan keadaan penjualan.
  4. Bahwa Harga jual produk tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat kegiatan. Jika dalam usaha menaikkan volume penjualan dilakukan penurunan harga jual, maka hal ini akan mempengaruhi hubungan biaya, volume dan laba.
  5. Mungkin diantara anggapan –anggapan tersebut diatas, anggapan yang paling pokok adalah “bahwa volume merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya.

Dengan adanya anggapan-anggapan atau keterbatasan tersebut maka dalam grafik break even garis-garis jumlah penjualan, jumlah biaya, ( baik biaya tetap maupun biaya variabel ) semua nampak lurus. Karena semua perubahan dianggap sebanding atau proposionil dengan volume penjualan. Disamping itu analisa break even baik dengan mengunakan rumus matematika maupun dengan grafik tidak dapat menunjukkan kepada management atau penganalisa tentang tingkat penjualan yang optimum dalam arti tingkat penjualan yang dapat diperoleh keuntungan yang paling besar.

Analisa Biaya, Volume, dan Laba

Analisa Impas memberikan informasi berapa  tingkat penjualan minimum yang harus dicapai suatu perusahaan agar supaya tidak menderita  kerugian. Dari analisa tersebut juga dapat diketahui sampai seberapa jauh volume penjualan yang direncanakan boleh turun, agar supaya perusahaan tidak menderita kerugian. Analisa Impas merupakan salah satu bentuk analisa biaya,volume salah satu bentuk analisa biaya, volume dan laba karena untuk mengetahui impas maupun margin of safety perlu dilakukan analisa terhadap hubungan antara biaya, volume dan laba.

Apabila didalam analisa impas titik Berat analisa diletakkan pada tingkat penjualan minimum yang menghasilkan  laba sama dengan nol, maka dalam analisa biaya, volume, dan laba ini titik berat analisa diletakkan pada sampai seberapa jauh perubahan – perubahan pada biaya, volume dan harga jual berakibat pada perubahan laba perusahaan. Untuk memudahkan analisa akibat pengaruh perubahan biaya, volume dan harga jual terhadap laba, maka dapat dibuat garfik laba dan volume.

Jenis-jenis Break Even Point ( BEP )

  1. Break Even Chart

Suatu peta yang menggambarkan grafik-grafik yang terdiri atas kurva jumlah seluruh biaya ( tetap dan variabel ) dan kurva pendapatan pada tiap tingkatan produksi, perpotongan kedua  kurva adalah “titik kembali pokok” ( titik yang berpotongan dari 2 garis lurus yang sama besar wilayahnya ).

  1. Break Even Equation

Suatu persamaan yang dinyatakan dengan rumus :

Penjualan pada titik kembali pokok   =              FC

1- Pct VC

Keterangan   :

FC          =  biaya tetap

Pct VC    =  Persentase biaya variabel terhadap penjualan

  1. Break Even Function

Fungsi kembali pokok yang dirumuskan  sebagai berikut :

FC

S       =

( 1 – VC )

Keterangan   :

S       =  Jumlah penjualan

FC    =  Biaya tetap

VC    =  Rasio biaya variabel terhadap jumlah penjualan yang diharapkan.

Keterbatasan Sistem Break Even Point

Menurut Mulyadi Keterbatasan system break even point adalah sebagai berikut :

  1. Garis biaya keseluruhan yakni garis yang menggambarkan jumlah biaya tetap dan biaya variabel seharusnya tidak digambarkan sebagai garis lurus, sebab dalam kenyataanya biasanya biaya tersebut tidak berubah secara propesional tiap satuan produk yang dijual dan dibuat belum tentu mengeluarkan biaya variabel yang sama .
  2. Garis lurus yang menggambarkan penerimaan penjualan juga tidak tepat menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Alasannya adalah bahwa permintaan yang ditujukan dalam bagan break even yang dikonvensional dianggap sama saja dalam semua tingkat besarnya produksi.
  3. Bagan break even menunjukkan gambaran yang statis sedangkan jalannya   perusahaan  amat  dinamis
  4. Sering kali demi penyederhanaan diabaikan adanya klasifikasi biaya semi variabel atau semi tetap kemudian dimasukkan begitu saja kedalam biaya variabel atau biaya tetap.

Kegunaan Dan Manfaat Analisa Impas ( Break Even )

Menurut Sutrisno analisa Break Even dapat digunakan untuk membantu menetapkan sasaran tujuan perusahaan, kegunaan bagi menejemen  antara lain :

  1. Sebagai dasar atau landasan merencanakan kegiatan operasional dalam usaha  mencapai laba tertentu
  2. Sebagai dasar atau landasan untuk mengendalikan kegiatan operasi yang sedang berjalan yaitu alat untuk pencocokan antara realisasi dengan angka-angka dalam perhitungan Break Even atau dalam gambar Break Even .
  3. Sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan harga jual yaitu setelah diketahui hasil perhitungan menurut hasil analisa Break Even dan laba yang ditargetkan.
  4. Sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang harus dilakukan seorang manager suatu  perusahaan.

 Manfaat  Break Even Point  ( BEP )

Manfaat Break Even Point dari berbagai segi seperti keuangan, kuantitas yang diproduksi, perubahan harga penjualan, dan dari segi laba adalah sebagai berikut :

a. BEP bermanfaat bagi perusahaan untuk mengetahui kondisi keuangan  perusahaan

  1. BEP bermanfaat bagi perusahaan untuk menentukan jumlah peralatan dalam rupiah atau unit yang akan dihasilkan perusahaan agar tidak rugi dan tidak untung.
  2. BEP  bermanfaat untuk menargetkan perusahaan harga penjualan dan peralatan.
  3. BEP bermanfaat untuk mengetahui jumlah biaya tetap dan variabel serta hubungan pendapatan total pada tingkat produksi.

Pengertian Biaya Standar

Didalam hal pengendalian biaya, manajemen memerlukan patokan atau standar sebagai dasar yang dipakai untuk tolak ukur pengendalian. Dibawah ini beberapa pengertian mengenai biaya standar menurut para ahli, antara lain :

Menurut Henry Simamora (2002 : 328) dalam bukunya “ Akuntansi Manajemen “ pengertian biaya standar adalah “ Biaya yang ditentukan sebelumnya untuk bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. “

Menurut Mulyadi ( 1999: 415 ) dalam bukunya “ Akuntansi Biaya “ pengertian biaya standar adalah “ Biaya yang ditentukan dimuka, merupakan biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu, dibawah asumsi kondisi ekonomi, efisien dan faktor-faktor tertentu. “

Menurut R.A Supriyono (1994 : 96) “ Biaya standar adalah alat yang dipakai untuk mengukur dan menilai prestasi pelaksanaan yang harus ditentukan dengan tekiti dan ilmiah melalui penelitian gerak dan waktu. “

Menurut M.P Simangunsong (1997 : 144) dalam bukunya “ Akuntansi Biaya “  pengertian biaya standar adalah “ Biaya yang ditentukan dimuka sebelum proses produksi berjalan, dan merupakan biaya yang seharusnya untuk membuat suatu produk tertentu. “

Menurut Adolph Matz, Milton F. Usry, Lawrance H. Hammer (1996 ; 95) : “Biaya Standar adalah biaya yang ditetapkan terlebih dahulu untuk memproduksi satu satuan unit atau sejumlah unit produk selama periode tertentu di masa mendatang”.

Dari pengertian tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa biaya standar adalah biaya yang ditetapkan terlebih dahulu untuk memproduksi sejumlah produk selama periode tertentu dimasa yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

      Biaya Standar dan Anggaran

Anggaran dan biaya standar merupakan dua penentuan biaya yang ditetukan dimuka. Perbedaannya terletak pada cara penentuannya, biaya standar digunakan untuk menentukan biaya per unit, terutama bahan baku dan upah langsung, sedang anggaran digunakan untuk menentukan seluruh biaya yang akna terjadi selama satu periode tertentu. Penggunaan biaya standar didalam menyusun anggaran akan dapat dipakai sebagai alat perencanaan dan pengendalian dengan baik dan teliti.

Dibawah ini pendapat menurut R.A Supriyono (1994 : 96) mengenai perbedaaan antara anggaran dan biaya standar antara lain sebagai berikut :

  1. Tidak semua anggaran disusun atas dasar biaya standar.
  2. Anggaran menyatakan besarnya biaya yang diharapkan, sedangkan biaya standar adalah biaya yang seharusnya dicapai oleh perusahaan.
  3. Anggaran lebih cenderung merupakan batas-batas biaya yang tidak boleh dilampaui, sedangkan biaya standar mengutamakan tingkatan biaya yang harus ditekan agar prestasi pelaksanaan dinilai baik.
  4. Anggaran pada umumnya  disusun untuk setiap bagian didalam perusahaan baik yang berhubungan dengan fungsi produksi, fungsi pemasaran, maupun fungsi administrasi dan umum. Sedangkan biaya standar pada umumnya disusun untuk biaya produksi saja.
  5. Selisih biaya yang timbul dari biaya standar akan diperiksa penyebabnya sedangkan anggaran tidak diperiksa lebih lanjut.

 

Manfaat Sistem Biaya Standar dalam Pengendalian Biaya

Sistem biaya standar dirancang untuk mengendalikan biaya. Biaya standar merupakan alat yang penting di dalam menilai pelaksanaan kebijakan yang tekah ditetapkan sebelumnya. Jika biaya standar ditentukan dengan keadaan yang sebenarnya, hal ini akan merangsang pelaksana dalam melaksanakan pekerjaannya dengan efektif, karena pelaksana telah mengetahui bagaimana pekerjaan seharusnya dilaksanakan, dan pada tingkat berapa pekerjaan seharusnya dilaksanakan.

Selain itu, sistem ini berguna sebagai pedoman bagi manakemen dalam menentukan berpa biaya yang seharusnya untuk melaksanakan kegiatan tertentu sehingga memungkinkan mereka melakukan pengurangan biaya dengan cara perbaikan metode produksi, pemilihan tenaga kerja, dan kegiatan yang lain.

 

Jenis-jenis Standar

Menurut Supriyono ( 1999 : 99 ) dalam bukunya “ Akuntansi Biaya “ mengemukakan jenis-jenis standar didasarkan kepada faktor-faktor anggapan sebagai berikut :

 

Faktor Tingkat Harga

Beberapa konsep tingkat harga yang dapat dipakai untuk menentukan sistem biaya standar adalah :

a)      Standar Ideal ( Ideal Standar )

Yaitu standar yang ideal yang dalam pelaksanaannya sulit untuk dapat dicapai. Asumsi yang mendasari standar ideal ini adalah bahwa standar merupakan tingkat yang paling efisien yang dapat dicapai oleh para pelaksana.

b)      Standar Normal ( Normal Standar )

Standar normal untuk tingkat harga mendasarkan anggapan kepada tingkat harga rata-rata yang diharapkan terjadi dalam siklus perusahaan. Standar ini merupakan standar yang paling tepat dalam praktek pengawasan biaya. Standar harga ini umumnya tidak direvisi sebelum skedul perusahaan berakhir.

c)      Standar Karen ( Karen Standar )

Yaitu standar yang didasarkan atas anggapan kepada tingkat harga yang diharapkan terjadi pada tahun pertama penggunaan standar.

 

Faktor Tingkat Prestasi

Didalam menyusun standar harus didasarkan kepada konsep tingkat prestasi yang akseptabel ( pantas ) dapat dicapai. Penentuan tingkat prestasi standar dapat dipertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :

a)      Standar Prestasi Teoritis ( Theoritical Performance Standar )

Standar ini didasarkan kepada anggapan bahwa semua pelaksana akan dapat bekerja dengan tingkat yang paling efisien. Sehingga tidak terjadi pemborosan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja maupun biaya overhead pabrik sekalipun.

b)      Standar Prestasi Terbaik yang Dicapai ( Attamable Good Performance Standart )

Didasarkan kepada standar prestasi teoritis dengan memperhitungan hambatan- hambatan prestasi yang tidak dapat terhindarkan. Standar prestasi ini dapat     dicapai oleh para pelaksana yang bekerja dengan efisien tinggi, sehingga merupakan tingkat prestasi yang banyak dipakai di dalam praktek.

c)      Standar Prestasi Rata-rata Masa Lalu ( Average Past Performance Standard )

Standar prestasi ini mendasarkan kepada rata-rata prestasi masa lalu untuk menentukan standar prestasi yang akan datang. Standar prestasi ini umumnya relatif mudah dicapai, akan tetapi bukan merupakan alat pengukur prestasi yang baik.

d)     Standar Normal ( Normal Performance Standard )

Didasarkan atas taksiran tingkat prestasi dan efisien yang  normal dapat dicapai oleh para pelaksana diwaktu yang akan datang, yang ditentukan untuk jangka waktu yang relatif panjang dengan cara mengeliminasi keadaan yang bersifat musiman dan fluktuasi  yang bersifat siklikal.

 

Faktor Tingkat Produksi

Tingkat produksi yang dapat dipertimbangkan didalam penentuan standar adalah sebagai berikut :

a)      Standar Kapitas Teoritis  ( Theoritical Capacity Standard)

Berdasarkan kepada kemampuan produksi suatu departemen atau pabrik pada kecepatan penuh tanpa berhenti. Pada standar kapasitas teoritis tidak memperhitungkan hambatan-hambatan kegiatan produksi yang tidak dapat dihindarkan, baik yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal perusahaan.

b)          Standar  Kapasitas Praktis ( Practical  Capacity Standar )

Merupakan suatu konsep pendekatan dalam jangka waktu panjang. Standar kapasitas praktis didasarkan kepada tingkatan produksi  teoritis  dikurangi dengan hambatan-hambatan kegiatan produksi yang tidak dapat dihindari oleh faktor internal perusahaan.

 

 

 

 

 

c)          Standar Kapasitas Normal ( Normal Capacity Standard)

Adalah kegiatan produksi yang dihitung dari standar kegiatan teoritis dikurangi  hambatan-hambatan yang tidak dapat dihindari baik yang datangnya dari faktor internal perusahaan maupun faktor eksternal perusahaan.

d)     Standar Kapasitas yang diharapkan (Expected Capacity Standard)

Berdasarkan kepada kegiatan produksi yang diharapkan dapat dicapai pada periode akuntasi pemakaian standard, sehingga merupakan pendekatan jangka pendek.

 

Prosedur Penentuan Biaya Standar

Penentuan biaya standar meliputi penentuan standar biaya bahan baku, penentuan biaya tenaga kerja dan penentuan biaya overhead pabrik.

 

Penentuan Standar Biaya Bahan Baku

Menurut Supriyono (l994 : l02) Standar biaya  Bahan Baku adalah biaya bahan baku yang seharusnya terjadi dalam pengolahan produk. Dalam menentukan  standar biaya bahan baku untuk mengolah produk, ditentukan oleh dua faktor yaitu standar kuantitas bahan baku dan standar harga bahan baku.

Standar kuantitas bahan baku ditetapkan  melalui cara-cara penyelidikan teknis,analisis pengalaman masa lalu, atau dengan melakukan uji coba.

Standar harga bahan baku adalah harga bahan baku per satuan yang seharusnya pada saat terjadi transaksi pembelian. Harga standar bahan baku dapat ditentukan atas dasar  :

(a)    Kontrak pembelian jangka panjang

(b)    Pengamatan terhadap input (masukan) harga dari suplier, katalog, atau informasi lain melalui media yang berhubungan.

(c)    Taksiran pejabat perusahaan yang mempunyai pengetahuan luas mengenai bahan baku.

 

Hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam penetapan standar harga bahan baku, adalah kemungkinan perusahaan harga dimasa datang, dan biaya-biaya yang berhubungan dengan perolehan bahan baku.

 

 

Penentuan Standar Biaya Tenaga Kerja Langsung

Menurut Supriyono (l994 : l06) Standar Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja langsung yang seharusnya terjadi didalam pengolahan satu-satuan produk. Untuk menentukan biaya tenaga kerja standar dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut :

(a)    Menentukan tarif upah standar

Tarif upah standar dapat ditentukan antara lain melalui kontrak, upah periode yang lalu atau melalui perhitungan dalam keadaan operasi normal.

(b)   Menentukan jam kerja standar

Jam kerja standar ditentukan dengan memperhatikan keadaan tata letak peralatan, sifat alat-alat produksi, kemampuan karyawan serta kontinuitas bahan, Penentuan jam kerja standar dapat didasarkan atas rata-rata jam kerja periode yang lalu atau dengan percobaan pelaksana produksi.

 

Penentuan Standar Biaya Overhead Pabrik

Menurut Supriyono (l994 : l09) Standar Biaya Overhead Pabrik adalah biaya overhead pabrik yang seharusnya terjadi didalam mengolah satu-satuan produk. Standar biaya overhead pabrik ditentukan dengan langkah langkah sebagai berikut :

(a)    Penentuan anggaran biaya overhead pabrik

Awal periode disusun anggaran untuk setiap elemen biaya overhead pabrik yang digolongkan ke dalam biaya tetap dan biaya variabel, dan lebih baik dalam bentuk anggaran fleksibel.

 

(b)   Penentuan dasar pembebanan biaya overhead dengan dasar  pembebanan yang akan dipakai. Dasar  pembebanan biaya overhead pabrik yang dapat dipakai,antara lain :

1)      Pemakaian biaya bahan baku.

2)      Pemakaian biaya tenaga kerja langsung.

3)      Pemakaian jam kerja langsung.

4)      Pemakaian jam mesin.

(c)  Penentuan tarif standar biaya overhead pabrik

Untuk menentukan tarif  standar biaya overhead pabrik dihitung dengan cara membagi jumlah biaya overhead pabrik yang dianggarkan dengan tingkat kapasitas yang dipakai sebagai dasar penentuan anggaran sedangkan untuk kepentingan tarif  biaya overhead pabrik tetap dan tarif biaya overhead pabrik variabel .

 

Analisis Penyimpangan Biaya

Penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar disebut selisih (Variance). Selisih biaya sesungguhnya dengan biaya standar dianalisis, dan dari analisis  ini  diselidiki  penyebab terjadinya yang kemudian dicari solusi atas penyimpangan yang memberikan selisih merugikan.

Analisis selisih biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung berbeda dengan analisis selisih biaya overhead pabrik. Dalam analisis selisih biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung hanya dikenal dengan dua macam kapasitas yaitu kapasitas sesungguhnya dan kapasitas standar, sedangkan dalam analisis biaya overhea pabrik dikenal tiga macam kapasitas yaitu kapasitas sesungguhnya,kapasitas standar dan kapasitas normal.

Pengertian Biaya

Pengertian biaya menurut Mulyadi ( 1993, hal 116 ) :

“ Biaya merupakan sumber ekonomis yang dinilai dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu “.

Pengertian biaya menurut R.A Supriyono ( 1991, hal 16 ) :

“ Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan ( revenues ) dan akan dipakai sebagai pengurang penghasilan”.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya merupakn suatu pengorbanan atau beban dalam mencapai tujuan tertentu.

Penggolongan Biaya

Dalam akuntansi umum biaya adalah pengorbanan atau beban dalam memperoleh barang atau jasa. Biaya dapat digolongkan menurut:

 

Penggolongan Biaya Menurut Fungsi Pokok Dalam Perusahaan

Ada tiga cara fungsi pokok dalam biaya perusahaan, yaitu:

  1. Biaya Produksi

Merupakan biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap dijual. Secara garis besar, biaya produksi ini dibagi menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

Biaya bahan baku adalah semua bahan baku yang secara fisik bisa diidentifikasi sebagai bagian dari barang jadi dan dapat ditelusuri pada barang jadi itu dengan cara yang sederhana dan ekonomis, ( Chrles T Honhren, 1997, hal 75 ).

Biaya Tenaga Kerja Langsung adalah seluruh tenaga kerja yang dapat ditelusuri secara fisik pada barang dengan cara yang ekonomis,( Charles T. Hongren, 1997, hal 75 ).

Biaya overhead pabrik adalah semua biaya selain biaya bahan baku atau upah langsung proses produksi, (Charles T. Hongren,1997,hal 75).

  1. Biaya Pemasaran

Merupakan biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk.

  1. Biaya Administrasi dan Umum

Merupakan biaya untuk mengkoordinasikan kegiatan pemasaran produk dalam perusahaan.

 

Penggolongan Biaya Menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu Produk yang Dibiayai

Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokan menjadi dua golongan :

  1. Biaya langsung

Biaya langsung adalah biaya yang terjadi oleh penyebab satu-satunya karena adanya sesuatu yang dibiayai. Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

  1. Biaya tidak langsung

Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik.

Penggolongan Biaya menurut Obyek Pengeluaran

Dalam cara ini nama obyek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Misalnya nama obyek pengeluaran adalah transportasi, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan transportasi disebut biaya transportasi.

 

 

 

 

 

Penggolongan Biaya Menurut Prilaku Dalam Hubungannya Dengan Volume Kegiatan

  1. Biaya Variabel

Merupakan biaya yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. (Mulyadi,1993,hal 119)

Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah-ubah secara proposional dalam persentase yang sebanding dengan perubahan kegiatan.

( Mas’ud Machfoedz,1990,hal 202 ).

  1. Biaya Semi Variabel

Biaya semi variable adalah biaya yang sejumlah totalnya akan berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

Biaya semi variabel adalah biaya yang jumlah totalnya akan beubah dengan adanya perubahan kapasitas kegiatan, tetapi perubahan jumlah biaya tersebut tidak proposional dengan perubahan kapasitas kegiatan.         (  Mas’ud Machfoedz,1990,hal 202 ).

  1. Biaya Semi Fixed

Biaya semi fixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat  volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.

  1. Biaya Tetap

Biaya tetap merupakan biaya yang jumlah totalnya tetap dalam lingkup kegiatan tertentu.

Biaya tetap merupakan biaya yang jumlah totalnya tidak berubah dengan adanya perubahan volume kegiatan dalam kisar (range) perubahan volume kegiatan tertentu. (Mulyadi,1993,hal 117).

 

Informasi Akuntansi Differensial

Informasi Akuntansi Differensial adalah taksiran perbedaan aktiva, pendapatan dan biaya dalam altenatif tindakan tertentu dibandingkan dengan alternatif tindakan yang lain. (Mulyadi,1993,hal 114).

Salah satu fungsi manajemen adalah perencanaan .Dalam perencanaan tersebut dihadapkan pada pengambilan keputusan yang menyangkut pemilihan berbagai macam alternatif.Untuk memutuskan alternatif yang harus dipilih mereka menghadapi masalah ketidakpastian.Oleh karena itu, manajemen memerlukan informasi yang dapat mengurangi ketidakpastian yang mereka hadapi sehingga memungkinkan untuk menentukan pilihan dengan baik. Salah satu informasi yang biasanya diperlukan sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan disebut informasi akuntansi differensial.

Informasi akuntansi differensial mempunyai dua unsur pokok yang merupakan informasi untuk masa yang akan datang dan berbeda diantara alternatif yang dihadapi oleh pengambilan keputusan. Informasi ini diperlukan oleh manajemen untuk pengambilan keputusan mengenai pemilihan alternatif tindakan yang terbaik diantara alternatif yang tersedia. Karena pengambilan keputusan selalu menyangkut masa depan, maka informasi akuntansi yang relevan adalah informasi masa yang akan datang pula.

Karena pengambilan keputusan selalu menyangkut pemilihan alternatif diantara berbagai alternatif yang tersedia maka informasi yang bermanfaat adalah informasi akuntansi yang berbeda diantara tiap-tiap keputusan yang akan dipilih. Informasi akuntansi differensial terdiri dari aktiva, pendapatan dan biaya. Informasi akuntansi differensial yang hanya bersangkutan dengan biaya disebut biaya differensial (differential cost), dan yang hanya bersangkutan dengan pendapatan disebut pendapatan differensial (differential revenue). Oleh karena itu, dikenal tiga macam istilah yaitu :

  1. Pendapatan Diferensial
  2. Biaya Diferensial
  3. Laba Diferensial

Pengertian dan karakteristik  pendapatan, biaya dan laba diferensial akan dibahas dibawah ini.

  1. Pendapatan Diferensial

Pendapatan Diferensial adalah jumlah pendapatan yang berbeda apabila dihitung dengan satu set kondisi tertentu dibanding dengan set kondisi yang lain.(Mas’ud Machfoedz, 1990, hal 234).

Pendapatan Diferensial

Bukan Pendapatan Diferensial

~Pendapatan masa yang akan datang.

~Pendapatan yang berbeda diantara berbagai alternatif keputusan.

~Pendapatan masa lalu.

~Pendapatan masa yang akan datang tidak berbeda diantara berbagai alternatif keputusan.

 

 

 

2.   Biaya Diferensial

Biaya Diferensial adalah masa yang akan datang yang diperkirakan akan berbeda (differ) akan terpengaruh oleh suatu pengambilan keputusan pemilihan diantara berbagai alternatif.(Mulyadi,1993,hal 117).

Besarnya biaya diferensial dihitung dari perbedaan  biaya pada alternatif tertentu dibandingkan dengan biaya pada alternatif lainnya. Biaya masa lalu atau biaya akan datang tidak berbeda diantara berbagai alternatif keputusan yang mungkin dipilih bukan merupakan biaya diferensial. Karakter biaya diferensial dan bukan biaya diferensial adalah sebagai berikut:

Biaya Diferensial Bukan Biaya Diferensial
~  Biaya masa yang akan datang.

~ Biaya yang berbeda diantara berbagai    alternatif keputusan.

~  Biaya masa lalu.

~ Biaya masa yang akan datang yang tidak berbeda diantara berbagai alternatif keputusan.

3.   Laba Diferensial

Pengertian laba diferensial erat hubungannya dengan pengertian pendapatan diferensial dan biaya diferensial. Laba diferensial adalah biaya yang akan datang yang berbeda diantara berbagai macam alternatif yang mungkin dipilih. Besarnya laba diferensial dihitung dari perbedaan antara laba pada alternatif tertentu dibandingkan dengan laba pada alternatif yang lainnya.

Pendapatan differensial                                                 xxx

Biaya Diferensial

           – Biaya produksi variable       xx

- Biaya Komersial variable    xx

+

( xxx )

Laba diferensial                                                             xxx

 

 

Manfaat Informasi Akuntansi Differensial Untuk Pengambilan Keputusan

Informasi akuntansi differensial bermanfaat bagi manajemen dalam pengambilan keputusan, diantaranya membeli atau membuat sendiri, menjual atau memproses lebih lanjut suatu produk, menghentikan atau melanjutkan produksi produk tertentu dan menerima atau menolak pesanan khusus.

Informasi akuntansi differensial untuk pembuatan laba menekankan pada laba differensial yaitu perbedaan pendapatan dan biaya dari suatu keputusan tertentu dengan alternatif lainnya.

Dalam pengambilan keputusan menerima atau menolak pesanan khusus jika harga jual perunit suatu pesanan khusus lebih besar daripada biaya variabel perunit pesanan khusus maka suatu pesanan tersebut sebaiknya diterima oleh perusahaan. Begitu juga sebaliknya apabila harga jual perunit lebih kecil daripada biaya variabel perunit sebaiknya pesanan khusus tersebut ditolak oleh perusahaan.

Jika : Maka :
~ Harga jual per-unit pesanan khusus > Biaya variabel per-unit pesanan khusus.

Pesanan khusus diterima

~ Harga jual per-unit pesanan khusus < Biaya variabel per-unit pesanan khusus.

Pesanan khusus ditolak

Bahwa membuat suatu keputusan apabila menerima pesanan, (Amin Widjaja Tunggal,1994,hal 183), perlu dipertimbangkan :

1.  Pendapatan diferensial, yaitu harga yang dibebankan.

2.  Biaya diferensial :

  1. Biaya variabel yang relevan meningkat berdasarkan kuantitas dalam pesanan khusus.
  2. Biaya-biaya tetap tidak terpengaruh, yaitu tidak relevan apabila pesanan khusus berada dalam kapasitas normal.
  3. Biaya-biaya tetap meningkat, yaitu relevan apabila melebihi kapasitas normal.
  4. Biaya-biaya kesempatan dari tindakan alternatif.

3.  Suatu pesanan khusus diterima apabila :

  1. Pendapatan yang melebihi biaya suatu pesanan khusus.
  2. Fasilitas yang digunakan menganggur dan tidak mempunyai alternatif lain yang lebih menguntungkan.
  3. Pesanan khusus tidak mngganggu pasar untuk keluaran reguler perusahaan.

4.  Tidak ingin kehilangan pelanggan yang ada.

5.  Tidak ingin kehilangan pelanggan yang prospektif. (Amin WidjajaTunggal,1994,hal 183).

 

Manfaat Informasi Akuntansi Dalam Pengambilan Keputusan Menerima atau Menolak Pesanan Khusus

Manajemen mungkin menghadapi masalah untuk memastikan apakah pesanan khusus akan diterima atau ditolak. Digolongkan sebagai pesan khusus karena pesanan tersebut mempunyai harga jual yang lebih rendah dibandingkan dengan harga jual produk yang sama kepada langganan umum. Yang harus dipenuhi agar suatu pesanan khusus dapat diterima adalah:

  1. Perusahaan harus memiliki kapasitas yang menganggur

Jika masih ada kapasitas yang menganggur, maka pemanfaatan kapasitas tersebut hanya mengakibatkan peningkatan biaya variabel, sedangkan biaya tetap jumlahnya tidak meningkat. Jika pengolahan pesanan  khusus tersebut mengakibatkan terlampaunya kapasitas yang ada maka keadaan ini mengakibatkan meningkatnya jumlah total biaya menetap.

  1. Dapat dilakukan pemisahan pasar.

Diperlukan pemisahan pasar antara penjualan biaya dengan penjualan untuk melayani pesana khusus. Tujuan pemisahan tersebut agar harga jual kepada umum yang lebih tinggi tidak rusak atau turun karena pengaruh harga jual pesanan khusus yang jumlahnya lebih kecil.

Informasi diferensial untuk memutuskan suatu pesanan khusus akan diterima atau ditolak adalah laba differensial. Besarnya laba diferensial adalah sebesar pendapatan differensial dikurangi biaya diferensial. Pendapatan differensial atas pesanan khusus adalah tambahan pendapatan yang akan diperoleh jika pesanan tersebut diterima.

Yang perlu diperhatikan dalam penerimaan atau penolakan pesanan khusus, (Mas’ud Machfoedz,1996,hal 371), adalah :

  1. Apakah pesanan tersebut akan menambah laba total perusahaan atau tidak.
  2. Apakah pesanan tersebut merusak harga pasar dari produk selain pesanan khusus tersebut atau tidak.

Apabila memang memenuhi kedua batasan tersebut diatas, yaitu menambah laba perusahaan secara keseluruhan dan tidak merusak pasar dari produk yang ada maka bisa disetujui oleh manajemen.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.